Header Ads

Bahaya Kahwin Dengan Programmer, ini luahan seorang isteri programmer


Suami : (Setelah balik lewat dari pejabat) sayang, sekarang saya logged in.

Isteri : Abang ada beli tak barang yang saya pesan tadi?

Suami : Bad command or filename.

Isteri : Tapi kan ke saya dah call abang pagi tadi kat pejabat suruh abang beli!

Suami : Errorneous syntax. Abort?

Isteri : Ish. Abang nih, takkan itu pon tak ingat? Hahaa….. Abang kata tadi dalam telefon nak beli tv? Mana dia?

Suami : Variable not found…

Isteri : Abang nih memang tak bole harap la. Bak kad kredit abang. Biar saya pergi belikan dan shopping barang dapur sekali.

Suami : Sharing Violation. Access denied…

Isteri : Abang ni tak sayang saya ke? abang lebih sayang komputer abang tu dari saya. Saya tak tahan la kalau macam ni selalu.

Suami : Too many parameters…

Isteri : Saya menyesal pilih abang sebagai suami saya. Harapkan muka je hensem.

Suami : Data type mismatch.

Isteri : Abang nih memang betul-betul tak berguna la.

Suami : It’s by Default.

Isteri : Macamana pula dengan gaji abang?

Suami : File in use … Try later.

Isteri : Kalau begitu, apa peranan saya disisi abang sebagai seorang isteri?

Suami : Unknown Virus.


Dia menceritakan soal kehiduapn rumah tangga mereka berdua. Tentang suaminya yang sibuk sekali dengan pekerjaannya. Sampai-sampai, dia menyedari bahawa menjadi seorang lelaki itu sangatlah tidak mudah.

Kerja siang malam, sampai tidak pulang untuk bertemu anak dan isteri. Curahan hati itu diposting oleh akun Facebook Shelly Lansritan.



Seperti ini yang ditulisnya :

Tidak Mudah Menjadi Lelaki, hampir sebulan ini, suami saya sibuk sekali.
Biasanya kalau pulang kerja, dia pasti main game. Kalau weekend atau cuti, juga pasti main game. Hampir sebulan ini gamenya membeku, tidak disentuh.

Suami saya seorang programmer, spesialis di bidang mobile aplikasi. Tapi dia sering rendah hati menyebut dirinya sebagai tukang ketik. Tidak seperti istrinya yang agent asuransi namun sering tinggi hati menyebut dirinya sebagai malaikat tanpa sayap, bahahahahaha...

Dari dulu sampai sekarang, saya tidak pernah paham tentang pekerjaannya. Jika kupandang laptopnya, rasanya semua yang terpampang di layar sama semua.

Berisi kode-kode ala programmer. Terlalu teknikal sekali buat saya yang terbiasa bekerja di dunia marketing. Maka dari itu saya minta pendapatnya jika terkait pekerjaan saya, sedangkan dia tidak bisa minta pendapat saya jika terkait pekerjaannya.

Saya menggosok pakaian sambil sesekali melihat padanya yang begitu serius di depan laptop. Saya jadi berfikir bahawa suami saya ini hampir tidak pernah mengeluh sesibuk apapun beban pekerjaan yang dia tangani.

Beda sekali dengan saya yang gemar berceloteh. Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu saya posting tengah menggosok baju yabg banyak.

Suami saya memang jarang sekali membantu pekerjaan rumah tangga, tapi saya bersyukur bahawa dia hampir tidak pernah menegur bahkan marah jika rumah dalam keadaan kotor atau berantakan.

Mungkin dia tidak ingin membuat saya bertambah pusing. Hal simple seperti itu sudah cukup membuat hati saya tenang. Saya tahu banyak sekali wanita yang sering menganggap dirinya menanggung beban berat dalam hidup entah itu ibu rumah tangga atau wanita menikah yang juga berkarir.

Sesekali saya juga merasakan hal yang sama. Rasanya ingin teriak "Heiiii...tidak mudah menjadi wanita!"
Tapi saya sadar menjadi pria pun tidak mudah.

Sebagai kepala keluarga mereka memikul beban tanggungjawab financial yang semakin hari semakin berat. Dunia kerja begitu kompleks.
Persaingan semakin ketat. Mereka perlu memutar otak dan bekerja sangat giat untuk dapat memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga tercinta.

Saya punya beberapa kenalan teman lelaki yang terpaksa harus bekerja di luar kota bahkan di luar negeri demi isteri dan si buah hati. Saya yakin mereka sebenarnya merasakan kesedihan tidak dapat berkumpul setiap waktu dengan keluarga.

Apalagi jika hari ulang tahun atau hari raya tidak dapat pulang.
Merindukan masakan istri, merindukan tangis dan tawa si kecil, juga merindukan suasana di negeri sendiri.

Kalau boleh mengeluh, saya yakin mereka juga ingin sekali melakukannya. Dengan memahami bahawa menjadi lelaki ternyata juga tidak mudah, saya sangat berusaha untuk tidak membuat suami saya bertambah pusing.

Kalau saya tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya, maka saya berusaha untuk tidak menyusahkannya. Sesekali saya juga menghiburnya dengan lawak.
Senang dapat melihatnya tiba-tiba tersenyum ketika dahinya berkerut di depan laptop.

No, I am not a perfect wife and i don't want to be perfect.
I just want to be my self then I will be happy. I was learning, I am learning and I will learn to be a better woman. Cheers Cici Shelly Sharing is Good.

Jika suamimu seorang IT Programmer, yang kau rasa terlalu banyak pertimbangan dalam berbagai hal. pahamilah bahawa mungkin dia terlalu larut dengan pekerjaannya.

Pekerjaannya menuntutnya untuk membuat semuanya. Harus selalu ada Plan B jika Plan A gagal. harus ada Plan C jika Plan B gagal. selalu memperhatikan inputan apa saja yang dikirimkan, prinsip If Else akan selalu dipegangnya erat erat.

Kau cukup mengingatkannya bahawa kehidupan ini bukan seperti program yang ia kerjakan. kehidupan ini telah sangat terstruktur dan yang perlu dilakukan hanyalah melakukan yang sebaik baiknya tanpa rasa takut.

Kerana kehidupan ini telah dirancang oleh Dzat yang kemampuannya sangat melebihi IT Programmer.

Dikuasakan oleh Blogger.